Beauty is to the eyes of beholder

iahsunshine28-Samsiah


Leave a comment

Maaf

Maaf ya, saya blom nulis apa2 nih…hikss… lagi banyak pengalihan *halah.. alesan :p*

Advertisements


4 Comments

Pemuda itu…

Seperti biasa, setiap zuhur dan ashar kami sholat berjamaah di musholla kantor. Tak terkecuali hari ini. Namun sholat ashar sore ini, ada pemandangan yang berbeda di hadapanku. Ketika kusedang berzikir setelah sholat, tanpa sengaja, dibalik pembatas tirai, kulihat seseorang, tidak hanya sekedar berzikir. Tapi ia rupanya sedang bersujud. Lamaaaa sekali. Mungkin sekitar 10 menit dia bersujud. Membuatku takjub. Memandang dari kulit kakinya yang lebih cerah dibanding jamaah lain, aku tahu bahwa dia adalah pemuda itu, pemuda usia 20 tahunan, yang tinggal di rumah di seberang kantorku. Dia baru saja kehilangan ayahnya pekan lalu, seorang berkebangsaan Amerika. Kufikir, pastilah dia masih merasa sedih atas kehilangan itu, seorang ayah yang pasti dia sangat sayangi. Teringat kala itu. Kami bertakziah di rumahnya, sekilas kulihat mata pemuda itu memerah, tanda bekas airmata bergulir. Tampak makin terlihat dibanding kulitnya yang putih. Kami semua menanyakan pada sang ibu, hendak dikubur dimanakah sang ayah? Sang ibu pun menjawab, bahwa suaminya meminta agar ia dikremasi saja, dan prosesi akan dilakukan keesokan harinya… oh.. kamipun mengangguk-angguk… Tak lama aku di sana, mematung, dan kemudian meninggalkan tempat itu, sementara atasanku semua dan beberapa karyawan masih berbincang dengan sang ibu..

 

Dan sore ini, kulihat pemuda itu begitu khusyuk dalam sholat dan sujudnya. Mungkin dia sedang mendo’akan ayahnya..

Ketika ku kembali dari musholla, kulihat ia tengah berbincang dengan atasanku di depan kantor. Rupanya ia sedang mendengarkan tausiyah beliau, dengan serius…. Ah, pemuda itu, semoga saja ia menjadi anak yang kuat dan semakin soleh…

(Catatan iseng di sore hari)


7 Comments

Bingung…

ehmm… semua orang udah punya gambar hedshot, aku blom punya dan gak tau gimana cara nampilin gambarnya…hhmmmm… kalau yg di gravatar ada hubungannya gak sih? kalau ada, udah beberapa kali ganti tapi gak muncul.. hasilnya tetap gak ada gambar/foto… ada yg bisa bantu? 🙂


Leave a comment

Antologi CAROK-Di Kereta Pasar

Kawan, saya yakin, pastilah kalian sudah pernah (bahkan mungkin sering ya?) melihat pemandangan seperti ini, penumpang kereta yang berjubel memenuhi bagian dalam dan atas kereta. Seperti saya, yang tinggal di sekitar Jakarta Selatan, hampir setiap hari bisa melihat pemandangan seperti itu di dekat Stasiun Kalibata, pada saat jam-jam pulang kantor.

Kalau melihat pemandangan seperti itu, ingatan saya selalu melayang pada peristiwa puluhan tahun lalu, dimana pertamakalinya saya naik kereta dari Stasiun Tanah Abang. Pengalaman yang tak terlupakan, karena sangat berkesan buat kami semua.

Hari itu, saya begitu ingat, masih dalam suasana Hari Raya Idul Fitri, saya diajak ibu dan paman pulang kampung ke Rangkas Bitung. Tidak seperti biasanya dimana kami naik bis “Sadar” (nama bis-nya Sadar, tapi pas dinaikkin ngebutnya minta ampun, macam bis yang lagi gak sadar…hehe..), pulang kampung kali ini ibu mengajak naik kereta .  Sebagai anak yang masih kecil, saya dan adik saya manut saja, mengikuti ibu saya, walaupun saat itu saya melihat ibu dan paman agak berdebat soal transportasi. Nampaknya mereka belum sepakat, apakah naik kereta atau bis. Namun akhirnya disepakati kami naik kereta dan kamipun dengan tenang ikut menunggu kereta yang belum datang.

Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya kereta pun datang. Kami bergegas berebut masuk, karena rupanya hari itu banyak sekali penumpang dengan tujuan yang sama. Aku pun segera berlari, sambil berpegangan tangan erat dengan ibu, khawatir akan tertinggal kereta. Kalau dilihat, penuhnya mirip sekali dengan penumpang kereta yang kulihat di tv yang berdesakan itu.

Pyuhhh… akhirnya kami semua bisa masuk juga ke dalam kereta. Kami sedikit lega. Sedikit? Iya sedikit saja, karena ternyata ketika di dalam kereta, suasananya sudah mirip seperti pasar. Banyak penumpang, dan juga penjual makanan maupun mainan sudah berjejal di dalam. Tempat duduk? Seperti model kereta ekonomi jurusan Jakarta-Bogor, kursinya hanya menyamping, tidak seperti kursi di kereta luar kota semacam kereta jurusan Bandung yang bagus dan deretannya seperti kursi di dalam bis. Dan kami? Tak satupun yang mendapat tempat duduk. Saya merasa seperti berada di dalam pasar, bukan di dalam kereta. Untungnya saya bukan anak yang rewel dan cengeng. Dengan keadaan hiruk pikuk dan udara panas serta bau keringat dan segala macam bau lainnya di dalam kereta seperti itu, saya hanya terdiam sambil tetap mencengkeram lengan ibu dengan kencang. Yang saya khawatirkan hanya terpisah dari ibu. Sementara adik saya pun begitu, tak terlalu rewel. Adik pertama berdiri di dekat saya, ikut berpegangan. Sedang adik bungsu ada dalam gendongan ibu.

Sebalnya, semakin jauh kereta berjalan, bukannya semakin berkurang penumpang dan pedagang, justru semakin sesak. Bayangkan saja, ada penumpang yang membawa pisang bertandan-tandan, sayur-mayur, ayam hidup, belum lagi yang berjualan hilir mudik (aneh kan? Bisa hilir mudik di tengah desakan? Betul lho ini, dia hilir mudik dan memaksa melewati penumpang yang sedang berjejalan).

Dan yang makin menyebalkan, diantara  jejalan penumpang yang sudah tak tertahankan, tiba-tiba datanglah pedagang minuman teh dalam kemasan botol, lengkap bersama petinya dua atau tiga tumpuk. Peti botol minuman itu dengan seenaknya diletakkan di tengah-tengah kerumunan penumpang yang sedang megap-megap mencari sedikit ruang untuk berdiri (sudah gak ada lagi yang bisa duduk). Peti botol itu tepat bertengger di dekat kami. Dengan segera kami protes pada penjual minuman tersebut. Namun rupanya penjual tersebut memang tak punya empati dengan keadaan penumpang. Buktinya dia dengan cueknya tetap meletakkan petinya. Dan yang membuat kami kesal, rupanya dia hanya titip meletakkan peti tersebut di tengah-tengah kami, sementara setelah itu si penjual yang tak tahu diri itu membawa beberapa botol minuman di tangannya kemudian pergi menjajakan jualannya ke gerbong-gerbong yang lain. Kami mulai mengomel-ngomel, tapi semua juga nampak sibuk dengan urusan masing-masing. Semua Nampak berusaha membuat diri masing-masing nyaman dengan keadaan yang sedang tak menyenangkan itu. Saya dan adik juga ikutan mengomel pada ibu, menyesali kenapa naik kereta semacam ini. Ibupun ikut menggerutu. Semua akhirnya menggerutu. Semua bertekad, gak akan mau naik kereta lagi kalau pulang kampong. Kereta pasar, dengan penumpang dan pedagang yang sermrawut dan tak pedulian dengan sesamanya.

Setelah akhirnya kami sampai di Stasiun Rangkas Bitung, kami begitu lega. Dan masih dengan penampilan yang acak-acakan akibat desakan di dalam kereta, segera kami mencari warung bakso terdekat, untuk makan sambil beristirahat sementara dan kemudian melanjutkan naik kendaraan menuju kampung halaman.

Hingga sekarang, pengalaman berdesakan di kereta ekonomi lengkap dengan pedagang minuman yang tak punya perasaan itu, terus teringat di benak saya dan adik-adik. Sampai puluhan tahun kemudian, sampai sekarang, sekalipun kami gak pernah mau lagi diajak ke kampung naik kereta. Pengalaman yang amat menyebalkan, membuat jera, namun bila diceritakan kembali bersama adik-adik dan ibu, malah membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Tertawa miris karena sebal dengan keadaan saat itu.

Tentang saya, apakah saya kapok naik kereta? Kalau ke kampung tentu saja kapok setengah mati, tapi kalau naik kereta commuter line yang ber-AC, tentu saya mau. Lagipula terkadang saya mengalami keadaan harus melakukan perjalanan naik kereta di saat-saat tertentu, tentunya hal itu tak bisa ditampik. Sesak sedikit tak apa, asalkan tak ada penjual minuman sembarangan seperti di kereta dulu…

 

Tulisan ini diikutkan pada lomba yang diadakan oleh Mozaik Indie Publisher. Untuk keterangan lebih lanjut, cek ke sini : http://mozaikindie.wordpress.com/2012/09/04/antologi-carok/


8 Comments

Insya Allah

(27 April 2009)

Apa yang terbetik di benak kita ketika ada orang berjanji pada kita kemudian dia mengucapkan ‘Insya Allah’? Kebanyakan dari kita pasti meragukan janji orang tersebut. Timbul dalam benak kita, “Apakah orang itu benar-benar akan memenuhi janjinya pada kita?” “Kok bilang Insya Allah, jangan-jangan dia bohong nih!”

 

Hal tersebut juga terjadi pada saya. Suatu hari teman saya di kantor meminta saya untuk memberikan sejumlah uang secara tunai pada waktu yang telah ditentukan. Biasanya saya mengirimkan uang tersebut secara tidak langsung, artinya ditransfer melalui bank yang ditunjuk. Kemudian saya bilang pada dia,”Insya Allah, nanti dibayar cash”. Terus dia bilang,”Kok bilang insya Allah?” “Nanti gak ditepatin lagi!” Saya kemudian bengong sebentar, lalu saya jawab,”Kenapa kalo dibilang insya allah terus jadi ragu kalau gue akan nepatin janji?” saya teruskan lagi,”insya allah mana nih? Insya allah Indonesia atau insya allah Islam?” Terus teman saya ketawa aja sambil bilang,’ok deh,gue percaya sama elo kalo bakal nepatin janji”.

 

Kalau insya allah dalam islam itu, kita mengusahakan untuk memenuhi janji kita, dan jika kemudian ketika kita sudah berusaha keras untuk memenuhi janji itu, terjadi hal yang di luar kekuasaan kita hingga kita tidak dapat memenuhi janji kita tersebut, berarti itu sudah ketentuan Allah kita tak dapat memenuhinya. Insya Allah, “jika Allah menghendaki/berkehendak”. Karena ketika kita berjanji pada seseorang, kita juga tidak seharusnya dengan pedenya bilang, “ok deh, saya pasti tepatin janji”, tanpa mengucapkan ‘insya allah’. Karena Rasulullah SAW pun pernah ditegur Allah SWT dalam hal ini. Saya tidak tahu persis redaksinya (mohon maaf atas kekurangan ini, itulah saya, mudah lupa…:D), tapi inti ceritanya adalah begini :

 

Pada suatu hari ada salah seorang sahabat yang menanyakan suatu persoalan pada Rasulullah yang pada saat itu jawaban atas pertanyaan sahabat yang bersangkutan belum ada pemecahannya dalam Al-Qur’an. Kemudian Rasulullah mengatakan pada sahabat tersebut dengan pasti,”tunggulah beberapa hari lagi akan ada jawaban dari Allah SWT tentang persoalan yang kamu tanyakan” (tanpa mengucapkan Insya Allah). Kemudian si sahabat kembali pulang. Rasulullah mengatakan hal itu karena “biasanya” bila ada suatu masalah yang belum dapat dipecahkan pada saat itu,”biasanya” tidak lama kemudian Allah akan memberi petunjuk pada Rasulullah dengan menurunkan ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan persoalan yang sedang terjadi.

 

Hari-hari berlalu, tanpa ada petunjuk dari Allah SWT, dan tak ada satu ayat pun yang diturunkan pada Rasulullah. Rasulullah merasa resah. Kenapa Allah tidak menurunkan satu ayat pun?. Sampai akhirnya si sahabat yang telah dijanjikan tersebut datang kembali untuk menagih janji Rasulullah padanya. Akhirnya rasullah dengan berat hati meminta maaf pada si sahabat karena belum bisa menjawab pertanyaan yang diajukan disebabkan belum turunnya ayat. Hingga kira-kira sebulan telah berlalu (maaf kalau salah hitung, mohon koreksinya), barulah Allah menurunkan ayat-Nya. Tapi ayat yang turun itu bukanlah jawaban yang diharapkan Rasulullah untuk memecahkan persoalan yang sedang ditanyakan. Melainkan ayat tersebut berisi teguran kepada Rasulullah karena telah berjanji tanpa mengucapkan “Insya Allah”. Pada saat itulah Rasulullah menyadari kekhilafannya, dan memohon ampun kepada Allah SWT.

 

Kembali kepada persoalan penerapan ucapan ‘Insya Allah’. Bahwa dalam Islam ucapan itu berarti pengakuan kita terhadap segala ketentuan Allah SWT yang terjadi pada kita, bahwa penentu terakhir adalah Allah, bukan kita. Bahwa kita hanya bisa berusaha (ingat ya, “usaha” dulu), dan keputusan terakhir ada di tangan Allah. Dan juga bahwa ucapan itu bukanlah untuk menjadikan ‘alasan’ kita untuk mengingkari janji yang telah kita ucapkan.

 

Begitulah seharusnya penerapan Insya Allah.

Memang kebanyakan orang saat ini selalu bilang dengan pasrah, sebelum ada usaha,”yah kita kan udah bilang ‘insya allah’, jadi gak salah juga kalau kita gak bisa penuhi janji itu”.

Waduh, udah salah penerapan tuh. So, mulai sekarang, mari kita ganti persepsi ucapan ‘Insya Allah’.

Ucapkan selalu ‘Insya Allah’ ketika kita berjanji dengan tekad untuk memenuhi janji tersebut sekuat usaha kita dan menyerahkan hasilnya pada ketentuan Allah SWT.

 


Leave a comment

Dapet doorprise

(13 Mei 2009)

Seumur-umur, sampe sekarang udah setua gini (hehe…) saya gak pernah yang namanya dapet hadiah dari undian berhadiah yang prosesnya perlu ngisi form dan segala rupa, apalagi doorprise yang tinggal tunggu pengumuman. Gak banget.. Emak saya yang paling semangat dan sering ikutan undian berhadiah juga gak pernah dapet…hehe…

Tapi walaupun gak pernah dapet, semangat emak saya gak pernah pupus untuk terus ikutan undian (hihi..), bahkan selalu ngomporin saya untuk ikut, walaupun saya sebenarnya juga gak terlalu tertarik dan mikirin soal undian.. Terlebih bapak saya selalu bilang,”udah deh, keluarga kita tuh kalo mau sesuatu, harus kerja dulu, dapat uang dari pekerjaan baru bisa beli barang, kita nih gak bakalan deh dapet hadiah yg mendadak macem begitu,”, saya pun meng-iya-kan bapak tanda setuju (tapi emak saya tetap semangat ikutan, walau udah sering dibilangin jangan ikut, tetap minta tolong ditulisin form undian sama saya…hehe).. Walaupun pernah dapat juga, tapi adek saya yg dapat doorprise (bukan saya), yaitu berupa toaster, pemanggang roti, lumayan buat sarapan, dan emak saya pernah dapat mukena di acara pengajian. Jadi untuk hadiah yang skala besar, gak mungkin deh bisa dapet.. Itu fikiranku sebelumnya..

Tapi ternyata, Allah SWT akhirnya mengijinkanku mendapatkan hadiah tak terduga (Alhamdulillah).. Dan keberuntunganku datang juga, tanggal 9 Mei yg lalu, tepatnya pada acara HUT salah satu BUMN, kebetulan aku bekerja dibawah naungan bumn tersebut. Seperti biasa setiap hut pasti ada pembagian doorprise. Hadiahnya macem-macem. Dari barang elektronik semacam tivi, kulkas, dvd player, sampe ipod.. hingga peralatan rumah tangga semacam panci dan handuk, juga sepeda gunung, dan lainnya (tas laptop, motor, payung, dll), semua ada lengkap kap… Biasanya kalau ada pengumuman doorprise, saya gak pernah berharap banyak, n gak peduli, karena memang dari tahun ke tahun, gak pernah nyangkut nama saya dipanggil .

Dan pagi itu, sebelum saya berangkat ke tempat acara, adek saya bilang,”ce, mudah-mudahan nanti dapet motor ya”. Saya ketawa aja…hehe… gak berharap banyak. Ditambah bapak saya pun mulai mengingatkan wejangannya seperti biasa,”gak usah berharap deh, kerja aja kalo mau dapet barang”…haha

Sesampainya disana, waktu hari mulai siang dan doorprise diumumkan satu persatu, teman-teman saya mulai menyampaikan berita soal siapa yang dapat doorprise (saya gak ikut liat pengundian, males, gak pernah dapet..hehe). Di kantor saya sendiri ada beberapa orang yang dapet. Ada yang dapet dispenser, kompor gas, ipod, tas laptop, 1 set handuk, 1 set panci. Trus saya tanya ke temen,”ada nama saya gak?,” Jawabannya seperti biasa,”gak ada mba!” Jadi saya senyum-senyum aja sambil becanda bilang ke temen,”oooh mungkin nanti giliran saya dapet motor..hehe” (padahal dalam hati saya, pengumumannya udah selesai, berarti gak dapat…hihi).

Menjelang waktu makan siang, hujan di luar sangat deras dan lamaaa alias awet. Rencananya setelah makan siang saya mau pulang aja, karena acara kayaknya udah mau selesai. Saya teruskan makan siang. Nah, sewaktu saya mulai asyik makan siang, tiba-tiba dengan tergopoh-gopoh, seorang teman memanggil saya dan dengan setengah memaksa meminta saya keluar. Ada apa ini? Ternyata dia bilang bahwa nama saya dipanggil ke atas panggung, dan harus cepat datang. Sebab klo gak cepat datang nama saya hangus.. Hangus? Acara apa nih pake bikin hangus nama? Begitu pikiran saya.. Tapi teman saya it uterus mengajak saya, dia bilang saya dapat doorprise.. Ha? Dapet doorprise? Masa sih? Saya setengah bengong gak percaya dengan ucapan teman saya itu…haha.. Tapi akhirnya saya ikuti aja teman saya itu (kasian liat dia udah capek panggilin saya).

Akhirnya di tengah derasnya guyuran hujan siang itu, dan ditemani lagi oleh seorang teman, saya pun menghampiri panggung. Tapi karena jarak panggung tuh jauh dari tenda, dan mengingat khawatir nama saya keburu hangus (skarang dah tau kenapa bisa hangus…hehe), akhirnya teman saya berlari lebih dulu, dan dengan cepat dia menghampiri panitia untuk menunjukkan kartu nomor yang saya miliki. Waktu itu saya belum tau hadiah apa yang bakalan saya dapet, saya tunggu teman saya kembali dari panggung. Ketika teman saya kembali, dia membawa sebuah gambar dari styrofoam, ternyata gambarnya adalah ‘kulkas dua pintu’. Ha? Bener nih saya dapet kulkas? (Ternyata pengumuman hadiah yang besar belakangan n pake system hangus).

Setengah gak percaya saya liat terus tuh gambar kulkas…hehehe… Alhamdulillah.. Allah memberi rejeki gak terduga ini.. Kulkas euy! Ketika saya bilang pada bapak soal ini, beliau hampir gak percaya. Bapak selalu bilang kalo barang itu udah ada di depan mata, baru deh percaya…hihi.. So, saya minta bapak jemput n bawa tuh kulkas, biar percaya.. Sampe 2 hari selanjutnya saya masih bertanya-tanya, apa betul tuh kulkas buat saya? Jangan-jangan nanti diambil lagi, dibilang bukan buat saya.. Makanya waktu temen-temen kantor ngucapin selamat, saya biasa aja, senyum-senyum bingung.. Soalnya sambil mikirin, khawatir kalo ternyata nanti diambil lagi kulkasnya, malu deh…hihihi..

Sekarang tuh kulkas ngendon di ruang tamu, buat pajangan sementara, sama kardus-kardusnya… Walaupun di gambar kulkasnya 2 pintu, tapi ternyata dapetnya 1 pintu, tetep seneng dong.. Bersyukur.. Banyak tetangga yang tanya, mau dijual gak kulkasnya? Saya bilang, gak akan dijual deh, buat kenang-kenangan.. Kenang-kenangan klo saya pernah dapet doorprise gede… Duh norak banget yak!.. hehe..

(o iya, hari selasanya saya juga baru dapet benang murmer warna ijo dari mba Thata, hasil dari pengundian juga… alhamdulillah..tambah seneng *wink*…hehe)

Ini dia si kulkas hadiah doorprise